Suratan Takdir : Menjelma dari tamak menjadi syukur




Pada desember ini, rasanya sudah banyak sekali waktu yang dilewatkan begitu saja, sumpah kaya baru kemarin aja, kalimat cliche yang terus terang nyengir dibenak kepala saya. Baru jadi orang yang sedang beradaptasi di kota baru, bersinggah memang tak nyaman awalnya, suasana baru dengan cerita baru, kekurangan yang mencoba dipertahankan dalam berbagai situasi. Baru saja tepat dua mingguan saya berada di karawang dengan segala kekurangannya.

Panas, memang terkenal panas, gersang , iya gersang, sedikit perbedaannya adalah lebih mudah diputari seperti kota cilacap, kota industri yang disetting kotanya mudah dikelilingi dalam hitungan menit. Saya merasakan suasana rumah saya, gersang, banyak sawah, debu bertebaran, dengan satu titik pusat kota yang itu-itu saja.

Pada detik ini, saya tak terlalu berharap banyak pada kota karawang.

Ada satu hal yang membuat saya seperti sedang di cilacap, ngapak. dimana-mana ngapak, restorasi toko-toko dan jenis jenis makanan yang tak jauh beda, beserta cita rasa makanan serta dengan jenis selera fashion yang kurang lebih ciri khas produk lokal jadi andalan. Otonomi daerah yang coba digambarkan sangat melekat dengan bagaimana cilacap mendirikan banyak bangunan tinggi berkapasitas produksi besar.

Saya mencoba untuk menikmati detik demi deti, saat ini belum sepenuhnya move on dari hiruk pikuk keniscayaan kota jakarta. tak sepenuhnya bisa lepas dengan rasa rindu keangkuhan kota metro ini. Saya suka kadang aneh, di jakarta ga pernah keluar kamar kos, terlebih menyatakan sepakat kepada diri sendiri untuk anti-hedonisme.  Sejujurnya, saya telah kehilangan kesempatan untuk mengeksplore ke-eksotis-an kota jakarta.

Saya sengaja membeli sepeda kali ini, niat bener dalam hati. Karna sejatinya memang ingin memerangi lemak dalam tubuh. Lama-lama mulai risih karna chat yang ada di whatsapp mulai kebanyakan grup sampah.

Pada pukul 21.15 hari minggu, mati lampu mendadak, segera keluar, kupikir listrik token-ku habis. Bukan, bukan itu, tapi didepan kos saya sedang ramai ketika berbondong bondong mengantar jenazah yang diumumkan sore tadi. Kudengar celetukan "anu kebakaran didepan". Aku kembali ke kamar dan tiduran karna jam malam nanti liga serie a tanding.

Satu pesan belum terbaca, bertuliskan foto. mengirim foto apa ini bocah sih, tiap hari ga jelas chating ke saya. foto kejadian kebakaran malam itu. mencekam. tiga lantai hangus dalam hitungan detik menit jam. Sumber api terlihat dari lantai satu, lantas bagaimana keadaan lantai dua kupikir, keesokan harinya terdengar kabar dari berita bahwa tiga orang meninggal. Sungguh tragis. Terperangkap dari lantai dua dan gagal menyelamatkan diri. Tak memiliki kesempatan kedua untuk berpikir bagaimana untuk segera melompat dari celah jendela yang sudah tertutup kobaran api.

Saya menatap jauh bagaimana rasa syukur tiap orang dalam melihat kejadian ini, sungguh malang, namun memberikan banyak peringatan pada kita semua. Sungguh kita masih memiliki kesempatan, namun kembali menyia-nyiakan. Pada jejak kali ini, satu per satu dijalankan sesuai rencana, semua sudah ada yang mengatur.

Comments

Popular Posts