Jokowi dan Prabowo : Poros Politik Yang Sedang Memikirkan Masa Depan

watch_later Tuesday, 22 October 2019
Menarik sih bagaimana jokowi berubah drastis dan semakin lebih "bold" dalam melakukan kebijakan. Bahkan terlihat "ngawur" dalam melakukan keputusan sepihak tanpa menghiraukan suara suara rakyat. Apa yang kamu lihat diluar lingkaran politik tak akan mengerti apa yang terjadi didalam lingkaran jokowi. mungkin sesederhana itu, namun dalam prakteknya. Indonesia yang memiliki ideologi kedaulatan ditangan rakyat tidak serta merta harus diabaikan dalam meracik strategi kenegaraan sekaligus langkah politik yang diambil dalam setiap keputusan yang sifatnya politikal.

pertama adalah bagaimana pecah kongsi koalisi petahana menjadi polemik yang serius, mungkin datang dari ketidaksetujuannya surya paloh atas bergabungnya pak prabowo sebagai oposisi berada dalam lingkaran jokowi. Tentu saja kita melihat bagaimana masa lalu prabowo yang rela menjadi calon wakil presiden kala itu bersama dengan ibu megawati menjadi bukti romantisme politik antara keduanya. Tak heran jika prabowo merapatkan barisan dan melakukan sedikit "negoisasi" bersama dengan mantan koleganya. Hal ini direspon kedua belah pihak secara berbeda. Megawati tentu merasa ini pilihan politik yang baik, selain meredam angka konflik pasca pemilu yang lebih banyak melontarkan cacian dan makian, langkah politik ini dinilai menjadi langkah untuk win-win solution.

Namun, hal ini dianggap lain oleh surya paloh yang tentu saja, "kami adalah yang loyal" sejak sampai sekarang harus menerima fakta bahwa ia harus berbagi kursi dengan prabowo yang menjadi lawan mainnya beberapa bulan lalu. Terlepas dari itu, ada satu hal yang menjadi momok buat saya dari kalimat prabowo kala itu, dia mengatakan bahwa dia tak ingin jika nantinya tidak ada calon yang kuat untuk menandingi jokowi, dengan kata lain tidak ingin jokowi menjadi calon tunggal. Arti ini secara subjektif oleh saya, bener bener saya dimaknai begitu dalam, apakah sebenarnya negoisasi sudah terjadi sebelum pemilu? bahkan sebelum pencalonan? "kalo aku menang kamu saya tarik, kalo kamu menang aku yang ditarik."

Tapi seperti itulah politik, hal itu mulai terdengar ketika oposisi mulai pecah beberapa hari setelah mulai muncul presentase poling pemilu. Bahkan dimulai oleh partai yang cukup unik, PAN, zulfiki hasan bertemu dengan jokowi pasca pemilu. Pertemuan ini tentu dengan jelas bagaimana mereka akan menjadi bagian dari pemerintahan. Bahkan, isu saat ini berkembang bahwa dia akan mendapatkan jabatan sebagai ketua MPR untuk kedua kalinya adalah hadiah sebuah keloyalitasan. sadis. gaya politiknya akhirnya kelihatan.

Satu persatu merapat, berdamai dengan kekalahan dan "kecurangan" yang diklaim. Lalu, muncul isu baru, prabowo mendapatkan jatah menteri untuk partainya. cukup unik sih, bagaimana ia berjuang keras untuk saling berhadapan dan berlawanan, di ending cerita justru prabowo mendapatkan salaman hangat dan ditawari posisi yang strategis. Saya rasakan ada semacam "dirty little secret" yang coba dimainkan oleh prabowo kepada megawati, atau justru malah megawati dan prabowo adalah dua kumpeni yang saling loyal satu sama lainnya. Jika sandiaga uno nantinya mendapatkan kursi sebagai bagian dari kabinet menteri jokowi, tak heran lobi prabowo cukup ciamik. Bagaimana bisa oposisi lawan main, bisa mendapatkan jatah juga. seharusnya kan "winner takes it all"

Sebenarnya ini diawali dengan retaknya hubungan surya paloh dan megawati, diawali dengan digesernya luhut dan digantikan oleh wiranto dalam posisi paling strategis sekelas monkopolhukam yang membawahi posisi posisi kuat untuk membuat keputusan penting bangsa ini. Wiranto, nampaknya memiliki rapor merah juga dalam menjalankan birokrasi dan mengamankan kestabilan negara. Banyak yang merasa kecewa dengan sikap wiranto diakhir penghujung bahkan dalam "making decision" yang ambyar. Politik tetaplah politik, saya pikir, semua kembali kepada seberapa besar jokowi membutuhkan wiranto dalam menjalankan pemerintahan kedepan. Jika saja wiranto memegang kunci pemerintahan, saya pikir tidak ada kata lain selain bertahan dalam kamus buku wiranto. Tapi jika tidak, saya pikir bahwa pertemuan antara prabowo dan megawati yang terkenal dengan politik nasi gorengnya adalah kunci besar adanya pertemuan yang akan merubah arah politik di indonesia. Pasalnya secara tidak sengaja, dan secara kebetulan, surya paloh juga bertemu dengan beberapa koalisi untuk berkumpul. Sungguh aneh bin ajaib bukan?

Jika ini bukan merupakan perubahan besar, saya pikir prabowo tak akan bertemu dengan jokowi di dalam kereta MRT waktu itu. Dengan candanya dan kebersamaanya saya pikir adalah salah satu strategi politik untuk meredam gemuruh pasca pemilu. Pertemuan tersebut menandakan bahwa negoisasi dan lobi berjalan dengan mulus. Merangkul prabowo ada dua arti, yang pertama adalah menenangkan rakyat yang sudah pada level kefanatikan yang tinggi, hal ini bisa menimbulkan chaos yang tak terkontrol jika sumbu sumbu mulai dinyalakan. Tentu kedekatan mereka akan meredam semuanya, antara anti-klimaks dengan prabowo, atau melihat bahwa jokowi semakin apik dengan merangkul oposisi. Kedua, prabowo akan mendapatkan posisi strategis, dengan begitu, beliau akan memiliki confident dan tampil dominan untuk menunjukan kapasitasnya dalam mendorong masyarakat indonesia yang fanatik kepadanya kembali respect kepadanya. Dan juga, ada price yang harus dibayar oleh prabowo untuk mendapatkan lobi tersebut.

Disatu sisi, pertemuan surya paloh dengan anies baswedan sungguh random bin unik. Ada angin apa membuat surya paloh benar benar sibuk bukan main. Terlebih lagi, bagaimana prediksi-prediksi bermunculan mengisi bakal calon 2024.

Prabowo bergabung kedalam kabinet juga mengartikan bahwa bisa saja 2024 mendatang adalah strategi pdip untuk tetap berada dalam jalur yang baik. Karna dengan menarik gerindra, ini adalah investasi besar bagi pdip untuk bisa mengambil nafas di 2024 mereka masih memiliki kans untuk berada dalam pemerintahan. Tentu saja posisi paling favorit saat ini untuk 2024 adalah gerindra, beberapa nama freshpun benar benar cukup gemilang, lihat saja anies baswedan, dan sandiaga uno. Kapasitas ini demi investasi politik merupakan langkah yang cukup menarik perhatian saya, terlebih itu, bisa saja bahwa pdip mencoba untuk menjodohkan kadernya untuk bisa bersama sama maju di 2024 nanti.

politik nasi goreng luar biasa ya? bisa membiayai koalisi untuk 5 tahun mendatang disaat pemilu baru saja reda. Jika benar, koalisi pdip dan gerindra menjadi koalisi yang cukup kuat untuk mengisi pertarungan 5 tahun mendatang.

Politik jangan dianggap terlalu serius.
Pelajaran paling berharga yang pernah saya alami sampai sekarang. Mungkin jangan terlalu mendorong untuk menyikapi terlalu dalam apa yang terjadi dalam politik. Terlalu meyakini juga tampak menjadi lebih ambyar ketika political decision yang diambil oleh pilihan kita bener bener ngawur dan tidak bisa diterima. Sejauh ini saya memilih prabowo masih dengan alasan bahwa saya tak ingin lagi jokowi menjadi presiden 2 periode. Dengan alasan klasik bahwa performa jokowi bagi saya tak menyenangkan membuat saya mengambil keputusan tersebut. Akan tetapi jauh ini, saya telah mulai kalut dengan fanatisme untuk bisa memenangkan pilihan saya, mengambil sisi positif saja dan mengabaikan sisi negatifnya adalah sebuah kebodohan yang dibiarkan terbelenggu.

Saya pikir dari sini kita mulai belajar, bahwa tidak seharusnya kita menanggapi politik terlalu serius. Dengan arti lain menghilangkan sebuah fanatisme terhadap sebuah tokoh politik dan mengamini secara personal. Cukup melihat dan mendukung program kerja yang disuguhkan, lebih lagi dengan mengkritik program kerjanya, entah siapapun yang dirasa sudah mulai ngawur dan bikin resah penonton.

Cukup kami yang tersakiti, jangan 2024. Indonesia saya yakini cukup belajar dengan demokrasi dari waktu ke waktu. Saya harapkan nama-nama baru harus bermunculan, dan wajib mendapatkan tempat untuk menunjukan kapasitasnya, jika tidak ada kesempatan, maka putaran politik tidak akan tergantikan oleh cukong cukong yang haus dengan kekuasaan.