You are nice, that's good, I don't deserve it

watch_later Saturday, 21 September 2019



Oh Tuhan, izinkan ku pinta untuk menikmati masa itu.  Kali ini saja.
 
tapi setidaknya pada detik ini, aku masih mengagumi dikejauhan. Bagaimana bisa sejauh ini?

Dalam lorong kecil, pojok jendela bus sambil tersenyum simpul.
Sebenarnya sudah kutahu, tapi tak sampai dari harapan untuk mendapatkan undangan itu.

Mungkin kita sudah tua, tak pantas untuk mendamba. Bukankah begitu?

Kuberjanji menjadi apa yang telah jadi takdirku. Sudah semestinya takdir menjawab sebagaimana.

Masih ingat dalam tiga detikmu untuk tersipu malu, atau terteduh untuk saling curi pandang. Pada detik berikutnya, aku telah lupa pada kalian yang sedang mengajak bercerita.

Pada penjemputan siang hari, angkot yang telah kau sisihkan waktunya.

Pada jam waktu tidur siang yang kau relakan, bersikap anggun untuk tetap menutupi kemuraman.

Pada kemunafikan ini, naik turun menjadi anak kecil, tetap menjadi kecil.

Pada kerumunan untuk dipertanyakan, sudah pantaskah.

Pada canda yang membiru, kadang kita lupa untuk sepakat bahwa kita mengagumi tanpa sepatah katapun terucap.

Pada nyawa nyawa yang kita rindukan.

Pada keegoisanku, pada pendewasaan ini.

Pada harimau kecil, yang sungkan untuk menanyakan kabar.

Pada apa yang kuimajinasikan.

Pada tempat duduk yang menjadi sejarah kami sedikit untuk menenangkan hati, yang sedang kalut.

Pada jogja, berdiam bisu untuk tak sudi menyapa, tapi perlahan bahagia untuk berkunjung sejenak.

Pada pertemuan kembali dimasa untuk kembali.

Pada kesempatan yang kulewatkan berulang kali.

Pada malam yang panjang untuk kita lewati.

Sudah sepantasnya saya harus mengakhirinya, bukan? Post ini menjadi penutup rangkaian dari ribuan kata. Padanan kata untuk mengantarkan rindu, sejenak merasakan getir uluh hati pelan pelan teriris dan rasa cengir dibatin sambil tersembab.

Kulepaskan.

Untuk yang kusebut beruntung, bahagiakan dia selalu.