Ustad Abdul Somad : Canda Diambang Batas

watch_later Thursday, 29 August 2019
comment 2 Comments
Ust. Abdul Somad sedang berceramah menjelang videonya yang viral - diambil dari viva.co.id


RAME
salah satu gambaran dari dua bilik sudut pandang yang berbeda.
Saya melihat secara objektif, jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Ahok, sebenarnya tak jauh beda. Namun dalam konotasi dan makna yang berbeda, Ustad Abdol Somad lebih halus dalam menerjemahkan sebuah ajaran agama.

Ust Abdul Somad awalnya ditanya mengenai hal yang berhubungan dengan patung
Dalam video yang viral di media sosial, ada jemaah memberikan pertanyaan kepada UAS, mengapa mengigil ketika melihat salib.

"Apa sebabnya ustaz kalau menengok salib menggigil hati saya?" kata jemaah itu.

"Setan. Saya tausiah di seberang Pulau Batam. Batam, satu jam setengah kami sampai. Tapi tak terasa satu jam setengah karena film yang diputar Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Meleleh air mata penonton menengok Jainudin meninggalkan Ayat," kata Ust Somad

"Apa sebabnya kata ibu itu, mirip macam gini. Saya terlalu terbayang salib, nampak salib. Jin kafir sedang masuk. Karena di salib itu ada jin kafir," kata Somad.

"Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung. Kepalanya ke kiri apa ke kanan? Nah, ada yang ingatkan, itu ada jin di dalamnya. Jin kafir. Di dalam patung itu ada jin kafir,"

"Makanya kita tidak boleh menyimpan patung. Jin kafir itulah yang mengajak. Makanya kalau keluarga kita di rumah sakit di dalamnya ada jin kafir itu, tutup itu," ucapnya.

"Kalau sampai dia sakratul maut, kita tak ada di situ. Dia sedang diajak jin kafir, berhasil. Berapa keluarga orang Islam yang mati dalam keadaan husnulkhatimah? Dipanggilin Haleluya. Nauzubillah.. Nauzubillah.. Selamatkan orang Islam," 


Sebesar besarnya ber-alibi, orang tak akan jauh dari "hanya mencari alasan" saja. Namun dalam konteks ini ada dua hal yang saya ambil, yang pertama adalah jin. Dan yang kedua adalah kafir
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

kafir/ka·fir/ n orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya;
mengafirkan/me·nga·fir·kan/ v 1 menganggap (memandang) kafir; 2 menjadikan kafir;
kekafiran/ke·ka·fir·an/ n perihal (yang bersifat atau berciri) kafir
Pada konteks ini kafir memang hanya merujuk kepada orang yang tidak percaya adanya Allah sesuai dengan ajaran islam, dengan kata lain bahwa selain islam itu kafir. Tapi dalam prakteknya, kafir menjadi kata yang tabu untuk diucapkan, semacam kata "anjing" ketika mengumpat, padahal binatang tersebut tidak punya salah. Sebuah kata akan bermakna negatif tergantung kita menempatkannya, namun dalam hal lain juga menurut kbbi, adalah landasan dasar memaknai arti sesungguhnya kata tersebut.
Pada dewasa ini, dalam konteks abdul somad yang ada dalam kutipan tersebut saya merasakan ada unsur sarkasme dan ejekan. Meskipun pada dasarnya sebagian besar tanya-jawab dan tausiah beliau, dimulai dengan cerita yang ringan dan menghibur. Namun, setiap hal punya batasan dalam memperlakukan sesuatu yang apalagi sakral untuk orang lain.

Pada saat itu niat dan tujuan dari Ust Abdul Somad adalah menjelaskan tentang adanya patung didalam rumah atau ruangan, namun dalam hal ini Ust Somad menjelaskannya dengan memberikan contoh pada patung salib. Ini adalah jawaban yang merasa terkoneksi dalam satu pertanyaan yang dilontarkan dari umatnya. Lalu Ust Abdul Somad memperagakan "haleluya" yang notabene merupakan salah satu kata sakral dari umat kristen. Pada titik ini, siapapun mereka, apapun yang mereka perbuat, ataupun background yang mereka miliki, namun jika memberikan contoh dengan nada sarkasme yang cenderung menyebabkan orang tertawa, maka saya sebut tak akan jauh dari orang orang yang memperolok agama Allah.

Jika memang mengajarkan hal yang benar, tindakan yang lebih tepat adalah ketegasan. Dalam konteks ini, maka kita harus tegas kepada umat bahwa apa yang diajarkan si A salah, dengan ketentuan dan landasan yang ia pelajari. Jelas. Lugas. Konteksnya memberikan edukasi. Namun jika pada titik tertentu menyampaikan dengan cara santai dan bersenda gurau, apakah itu bukan dari bagian merendahkan apa yang sedang mereka ucapkan? buat saya pribadi, manusia tempatnya salah, jika salah, maka katakanlah salah, bukan malah berkelik. Berkaca pada kasus ahok, saya rasa hal ini bisa dikaji ulang bagaimana seharusnya dan batasan dalam membicarakan hal yang bukan hanya tabu, tetapi juga sakral.

Pada dasarnya Abdul Somad seharusnya membaca situasi, jika public figure secara terbuka menjadi bagian dari politik oposisi, maka mau tidak mau harus mengencangkan tekad agar lebih hati-hati dalam bertindak. Pada pasalnya memang dewasa ini, beberapa dibungkus untuk dibungkam mengecilkan suaranya, agar tidak lantang dalam menancapkan duri-duri kritikan. Hal inilah yang seharusnya Ust. Abdul Somad perhatikan. Banyak diluar sana melakukan hal yang sama dalam membuat kesalahan, jika Abdul Somad tidak mengakuinya lantas apalagi yang bisa kita pahami. Saya tahu, diapun tahu, jika ia mengakui kesalahannya, maka akan ada kelemahan dalam tutur katanya, beliau melakukan itu adalah bentuk perlawanan dirinya terhadap dirinya yang lainnya.

Terlepas dari itu,dalam beragama ada baiknya untuk santun, kita tau, bahwa kita harus tegas pada titik yang menyimpang, tidak ada toleransi. Maka jika kita berada pada titik antara "setuju dan tidak setuju" maka berhenti membicarakannya. Karna bagi setiap setiap orang memiliki pendiriannya, dan biarkan waktu yang akan menjelaskannya nanti, manakah setuju dan tidak setuju yang lebih baik dan benar. Tidak ada yang lebih baik dan lebih benar kecuali bentuk dari sebuah keyakinan masing-masing. Maka, tetaplah menghargai apa yang kita yakini, dan apa yang mereka yakini. Semoga kita semua senantiasa berada dalam Lindungan-NYA.


avatar

wah masi nulis fit,,.. mantap

Delete 14 September 2019 at 13:39
avatar
apitozz person

:') AMAAAAAAAR AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA KEMBALI

Delete 19 September 2019 at 17:07