Caknun : Budayawan Yang Membicarakan Agama




Teman saya secara random bilang saya via whats app, "caknun" tulisnya.
"emang kenapa" saut saya.
"Ya, lagi seneng aja ngikutin ceramahnya" lanjutnya
...


Saya salah satu pendengar setia caknun. Pasalnya satu orang dikantor sering mendengarkan ceramah caknun via youtube dengan volume maksimal. Dengan sambil mengerjakan sesuatu didepan meja, caknun menjadi pengisi kekosongan ketika kami kerja. Mata menghadap ke layar, tetapi telinga saya tertuju kepada caknun. Kesan saya terhadap caknun? lucu, frontal, dan masuk akal. Tapi..

Selama saya mendengarkan, saya melihat sosok yang liberal ada didalam caknun. Tema islami yang dibawa dalam diskusi selalu membahas tentang bagaimana seharusnya beragama dengan logika berpikir kita. Jangan hanya karna bacaan yang diterjemahkan, langsung "saklek" dijalankan tanpa memperhatikan budi pekerti dan etika yang berjalan didalam Indonesia.

Kembali lagi, saya merasa bahwa dengan guyonan guyonan yang kadang membuat saya terpingkal pingkal disatu sisi mengalami dilematis. Saya merasa kebingungan ketika pada satu titik tertentu saya menunggu mana surat atau ayat landasan yang membawa caknun mengangkat tema tersebut. Sampai beberapa menit kemudian saya menunggu, bahkan hampir selesai diskusi saya belum mendengar satupun ayat yang dikutip oleh caknun sama sekali, padahal sudah berganti tema dan obrolan.

Dengan dialog bahasa jawa yang sangat kental, sangat unik, dan lebih lagi, lucu dan membuka pemikiran. Membuat banyak penonton tergugah pemikirannya dan melek akan ceramah ceramah yang mengocok perut kita. Tapi saya selalu berusaha untuk memisahkan antara cerita caknun dengan ceramah ustad-ustad. Pasalnya caknun selalu menceritakan banyak hal tanpa landasan, dengan tanpa mengutip dari alquran atau alhadist. Oleh karena itu, saya bertanya kepada caknun, dia sebut dirinya itu apa?

Dalam beberapa kesempatan ditanya demikian, beliau menjawab ""Mas kalau gelar saya Kyai Haji..terus gelarnya Rasullulah apa mas ..: Kanjeng sepuh Kyai Haji Panglima Besar Waliyullah Nabiullah blablablablablabla..Muhammmad SAW." "Agama itu letaknya di dapur, nggak perlu dipamerkan di warungnya...nggak masalah kamu masak di dapur pakai gas, kompor biasa atau apa pun yang penting yang kamu sajikan di ruang tamu adalah masakan yang menyenangkan semua orang..begitu juga dengan agama, nggak masalah agama apapun yang di anut yang penting output di masyarakat itu baik..jadi orang yang mengamankan, menentramkan, menolong saat dibutuhkan.."

Dari sini, Caknun berkelik untuk tak ingin dikatakan seorang kyai. Beliau dengan nada rendah hati mengatakan bahwa dirinya ini bukan kyai, tapi hanya sekedar berbagi siraman rohani.

Coba bayangkan, ketika anda pagi subuh mendengarkan Kyai Ustadz Zainudin, salah satu ustadz kondang di kampung saya, beliau kalo ceramah sangat halus dan pelan, dan ditambah, penyampaiannya lambat. Mengutip satu demi satu ayat-ayat namun menjelaskan terdengar membosankan dan bikin ngantuk. Waduh, kalo tarawih makin unik lagi, bagian shaft makin maju kedepan. hehehe maaf sekedar sebagai pembanding saja. Disaat yang bersamaan, budayawan, figur publik, nyentrik, dan pecah lucunya, selalu mampu mencuri perhatian dengan guyonan guyonan islami yang selalu membuat kita merasa terus ingin mendengarkan. Namun dalam ceritanya, tidak ada satupun ayat yang diucapkan oleh beliau sebagai landasan pemikirannya dalam cerita-cerita tersebut. Jadi bagaimana?

Buat saya pribadi, dalam hal ini, konteksnya yang sebenarnya cukup menarik kita kupas dan kuliti adalah bagaimana caknun menjadi pribadi islami yang kaffah menurutnya adalah manusia yang dekat dengan Allah serta dekat dengan akal logika.

Menurut pandangan pemikiran saya, jika anda ingin mencari ilmu agama, jangan mencarinya dengan budayawan, seperti caknun. Anda akan lebih mudah tersesat dan kehilangan arah. Pasalnya, anda bisa bayangkan, banyak tafsir berbeda beda pendapat tergantung pada siapa mereka berpegangan dalam menafsirkan sebuah ayat, pada zaman nabi saja memiliki beberapa sudut pandang berbeda. Dan dalam hal ini, mereka sudah memiliki landasan yang kuat dan bisa dipertahankan dan dijalankan bersamaan tanpa harus memilih salah satu atau menentukan mana yang lebih baik. Tentu ada banyak sekali rujukan untuk mengarah kemana tafsir tersebut. Dengan begitu, landasan dalam berilmu agama sangat kuat dan bisa dijalankan secara benar dan kaffah. Berbeda dengan caknun, dia menggunakan akal logika dalam mengartikan setiap setiap langkah dalam ceritanya, dan tentu saja tanpa landasan. Semua tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dan mengajarkan islam dengan caranya sebagai sudut padang budayawan.

Bagi banyak kalangan yang minim ilmu agama, atau bahkan yang non-muslim pun, akan merasakan dan masuk dalam akal logika bagaimana caknun membawakan isi ceramahnya. Karna beliau melakukan teknik pendekatan antar logika berpikir kita dengan diberikan bumbu bumbu kelucuan kelucuan cerita yang sangat terhubung dengan pendengarnya. Oleh karena itu, caknun lebih tepat untuk pendengar yang minim ilmu dan orang yang baru saja belajar tentang agama, karna hal itu lebih mudah diterima ketimbang untuk bapak/ibu yang sudah minimal "sedikit paham" tentang  ilmu agama. (mohon maaf jika menyinggung, semua adalah pendapat pribadi saya tanpa menyinggung siapapun)

Saya tak akan mengutip kalimat kalimat kontroversialnya dalam berceramah, tetapi anda sudah bisa mengartikan sendiri ketika anda menontonnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)


Wallahu A’lam”  mengutip dari muslim.or.id

Comments

Popular Posts