Setidaknya Joko Driyono Lengser

watch_later Wednesday, 24 July 2019


Sudah berpuluh tahun, para pencari nafkah di PSSI tak pernah malu untuk melihat kebrobokan. Sejatinya bagi mereka adalah sebuah kerja ikhlas yang dibangun oleh mereka. Dan justru banggalah bagi mereka karna mereka lah yang mampu menyelesaikan tugas mulia menjalankan organisasi sepak bola di Indonesia. Hari demi hari dilewati, Joko Driyono lebih pantas disebut sebagai legend. Karna dialah yang berjasa dalam perkembangan sepak bola di Indonesia, yang stagnan ini.

Joko Driyono adalah kaki tangan dari setiap pemimpin sejak era Nurdin Halid masuk jeruji besi, diperebutkan oleh dualisme pasca lengsernya Nurdin Halid antara Arifin Panigoro dan La Nyalla memperebutkan tahta mahkota PSSI. Namun yang menarik, Joko Driyono masih berada disana sebagai kaki tangan lingkaran PSSI. Dengan kedok sebagai direktur operator liga, Joko menyulap pertandingan demi pertandingan dan mengatur jadwal para klub klub indonesia sebagaimana liga berjalan.

Tidak ada yang salah dengan Joko Driyono, hanya saja, setelah La Nyalla mulai kehilangan arah dan mulai meninggalkan PSSI yang nampak tak memperlihatkan hasil. Membuktikan bahwa menjadi pemimpin ditubuh PSSI tidaklah mudah, apalagi ditambah dengan minimnya sodoran cairan dana. La Nyalla banting setir terjun mengikuti petuah sang guru untuk masuk politik. Koneksinya membuat mudah untuk masuk ke lingkaran pemerintah dan memang notabene beliau adalah politikus sebelum masuk mencoba peruntungan di PSSI.

Setelah derasnya tekanan masyarakat untuk mundurnya La Nyalla, memberikan angin segar untuk sepak bola Indonesia salah satunya adalah nama nam baru bermunculan, dari Ponaryo, hingga Bambang Pamungkas menghiasi bakal calon, sampai yang tidak memiliki background politik sama sekali, Baginda Edy Rahmayadi. Sejatinya beliau memiliki visi misi yang baik, dengan hadirnya warna baru, beliau menjanjikan untuk memaksimalkan target untuk timnasnya. Setelah dilantik, beliau tak ragu dan langsung memutuskan budget PSSI nya ia gunakan untuk membayar gaji pelatih kelas wahid, Luis Milla. Pelatih yang pernah membela Barcelona era Cruyff memberikan banyak sekali petuah ilmu yang didapat dari prinsip melatih Luis Milla.

Sekali lagi, yang saya herankan, di era baginda Edy, Joko Driyono seolah tak tergantikan. Yang mengundang banyak sekali pertanyaan di kepala saya. Dari mata sampai hati memandang liga indonesia, gitu gitu aja terus. Tidak ada terobosan untuk merubah sistem liga indonesia menjadi industri sepak bola. Terus dibina untuk menajadi parasit di APBD Pemerintah. Klub indonesia di era Joko Driyono memberikan kebebasan kepada pemangku kepentingan untuk mencari modalnya melalui pemerintah dan hibah pengusaha lokal. Hal ini yang larut dari kasat mata dan menjadi malah angkat tangan dan berujar bahwa tugas dia adalah mengatur jalannya pertandingan. ehehe paham?

Sosok Joko Driyono seolah mencuat muncul ke permukaan setelah Baginda Edy ternyata hanya menjadi tameng dalam kebusukan lingkaran mafia di tubuh PSSI. Dengan adanya politikus menjadi ambil bagian sebagai Sekjen, meyakinkan kita bahwa ada sesuatu dibalik itu semua. Koneksi yang terhubung langsung dengan pemerintahan menimbulkan banyak spekulasi bagaimana dana mengalir dan bagaimana peran politikus ini memberikan kontribusi kepada PSSI.

Ekspektasi masyarakat kepada Indonesia semakin tinggi dan berbanding terbalik dengan apa yang dihasilkan tim Joko Driyono mengemban amanahnya sebagai direktur operator liga indonesia. Upaya demi upaya dilakukan, selalu beralasan bahwa mereka telah melakukan yang terbaik. Saya tahu, Pak Joko Driyono telah bekerja keras, saya yakin akan hal itu. Karna beliau hanya memiliki satu petak apartemen yang saat itu menjadi lokasi operasi tangkap tangan, satgas anti mafia.

Bahkan sampai detik ini satgas anti-mafia belum bisa mengungkap apa yang terjadi dibalik PSSI itu, dan hanya bisa memberikan dakwaan kepada Joko Driyono sebagai tersangka dalam kasus pemusnahan barang bukti.

Kilas balik bagaimana liga indonesia dikemas, tidak banyak perubahan sejak jaman nurdin halid, bahkan sampai ke level sekarang ini. 15 tahun lamanya berkiprah dibalik layar liga indonesia. Namun tidak dipungkiri bahwa Joko Driyono adalah salah satu otak pembangunan sepak bola indonesia sampai saat ini. Joko Driyono seingat saya, lebih banyak berkecimpung di dunia liga saja, artinya beliau berusaha keluar dari lingkaran PSSI untuk membangun image nya sendiri sebagai operator liga. Namun dalam praktiknya, tidak bisa sembarang tempat memisahkan antara siapa dan pemuka kepentingan sepak bola tanah air.

Dewasa ini, sebagai orang yang dituakan di PSSI adalah Joko Driyono sebagai tulang punggung sepak bola tanah air. Menjabat sebagai pengganti lengsernya Baginda Edy tak memuaskan segala lini. Masyarakat indonesia saya yakini sudah jenuh dengan lingkaran mafia yang selalu berusaha memainkan putaran selanjutnya. Dengan racikan ala kadarnya Jokdri, liga berharap tetap berjalan meski kusut dan tertatih tatih. Pasalnya banyak sekali faktor yang menyebabkan amatirnya manajemen klub dari berbagai sudut pandang, dari tidak profesionalnya ticketing, hilangnya potensi penghasilan merchandising, ga punya pemasukan hak siar, terlebih itu, cost untuk memproduksi berjalannya satu laga saja banyak klub yang meminta uluran bantuan, dari sampai minta saweran pengusaha lokal, sampai memalak bupati untuk mensupport klub daerahnya.

Puncaknya, kecurigaan demi kecurigaan meruncing ketika suara suara kecurangan mulai muncul ke permukaan. Ketika tim-tim dengan manajemen yang ingin maju berusaha untuk profesional, di sisi lain masih banyak klub yang gali lobang tutup lobang dengan tender tender serta permainan hibah APBD. Bagaimana PSCS yang selalu mendapatkan pinalti di menit 85 dengan keunggulan tipis 1-0, atau 2-1 mampu membawa ke-eksitensi-annya sampai ke level liga 2. Bahkan sempat hampir menjadi kampiun ketika liga tak resmi digelar PSSI untuk mengisi kekosongan status pembekuan PSSI. Tak hanya itu saja, pemain PSMP bahkan mengungkapkan bahwa dirinya sengaja untuk mengagalkan kesempatannya mencetak gol dari titik pinalti. damn.

Belum lagi, kasus kematian suporter yang dikeroyoki dan bahkan direkam menggunakan ponsel pribadi suporter lawan. Dengan menyanyikan yel-yel dan suara membawa, amarah menyeruak dengan mata kalap, nyawa manusia diinjak injak bak bola. Pada level ini, saya rasa sudah tidak pantas dinamakan manusia, hewan saja tau diri. Peran PSSI pada saat itu tentu saja acuh, karna pada titik ini mereka sedang fokus dengan dugaan mafia yang masuk ke halaman utama berita pagi itu.

Terlalu banyak lagi, kesalahan demi kesalahan yang terus terjadi. Tidak ada ketegasan dari PSSI dan bahkan posisinya semakin tidak diandalkan karna hanya membicarakan duit-duit melulu. Sudah jarang kasih jatah klub, malah memberatkan biaya cost memproduksi sepak bola saja dengan memberikan denda kepada klub. Bukan denda sebagai kebijakan PSSI yang dibutuhkan, tetapi pada titik itu, edukasi kepada suporterlah yang paling penting. Membentuk gerakan kampanye anti-timpuk dan dorongan edukasi menjadi suporter dewasa.

Bagi saya, Jokdri hanyalah salah satu dari wajah wajah PSSI yang diminta turun, namun disitu, dialah yang menjadi otak dalam berbagai macam permainan didalamnya.Pada berita terakhir yang saya dapat, Jokdri mendapatkan hukuman 1 tahun 6 bulan bukan sebagai tersangka jaringan kriminal mafia, melainkan kasus "menghilangkan barang bukti". Damn. Minimal dengan begitu, beliau dipaksa untuk lengser secara tak langsung karna sudah masuk jeruji besi. Itulah yang diharapkan oleh masyarakat untuk adanya revolusi besar ditubuh PSSI dan bukan hanya orang orang itu saja menjadi bagian dari permainan mafia didalam tubuh sepak bola.