Mencoba Puasa Main Twitter

watch_later Thursday, 4 July 2019




Kayanya dari judul aja salah, saya membuat posting ini dengan cara membuat judulnya terlebih dahulu, baru ngetik prolognya. Puasa itu bagian dari menahan hawa nafsu, dan judul ini mengartikan tidak seratus persen berhenti bermain twitter. Padahal sejatinya, hati ingin move on, dari gemerlap rasa nyaman di twitter.

Twitter bagi saya, dan beberapa orang lainnya adalah bagian dari orang orang yang sepi dari hiruk pikuk chatting dengan pasangan atau grup keluarga yang heboh. Twitter adalah pelarian, pelampiasan, dan rasa jenuh yang bisa dikeluarkan. Efek dari judul2 yang muncul dari timeline yang difilter berdasarkan jumlah following membuat kita bisa memodifikasi tweet apa yang muncul di timline kita sendiri, dampaknya, sungguh signifikan, dengan maraknya joke receh, meme, dan gif yang bisa mewakili perasaan membuat serasa tambah syahdu. Apalagi, sekarang ada kolo thread.

"Twitter please do your magic" , "Sebuah Ironi hari ini A THREAD" , "sobat miskin", "Drama Twitter" and whatever you ever will.

Twitter berawal dari sosial media untuk berkomunikasi, lalu mulai merambah menjadi tempat curhat galau galau cengeng ala ala cinta monyet SMA. Sederhananya, ada fase dimana twitter berkembang menjadi ke-alay-an dengan bergalau ria yang sejauh ini menjadi primadona, bahkan sampai sekarang beberapa masih melakukan tweet itu, agak "iuewh" but part of me forgive them, karna bagian dari saya juga kaya mereka juga. lol

Dan sekarang, twitter berubah menjadi platform untuk ajang sharing, berbagi dalam hal apapun, intinya, setiap tweet tujuannya berbagi. dari joke, meme, urusan sosial, menolong orang, berita, sampai drama gontot gontotan. Menariknya, rangkaian dari semua yang tersedia di timeline bener2 menghiasi waktu waktu senggang saya selama ini. Kalo lagi gabut buka twitter, ketemu client canggung buka twitter, nunggu busway buka twitter, sampai di krl pun buka twitter. Twitter udah kaya pengganti "chat dengan mantan" eh "dengan pacar", maaf. Dengan begini, beberapa orang yang single fighter udah merasakan hal yang nyaman tidak terbebani dengan receh receh soal berhubungan dengan pasangan.

Ada rasa kenyamanan yang terjalin antara saya dan twitter. Bukti keseriusan saya, 30,000 tweets sudah saya buat untuknya. Berisikan sampah sampah serta teror teror cinta bertepuk sebelah tangan. Dengan begini, rasa rasanya susah untuk melepas twitter. Lalu pertanyaan saya, apakah jenuh? bosan? mengapa berusaha untuk melepas sedangkan kita berdua sudah terlalu nyaman.

Tapi ada keresahan yang muncul dalam waktu dekat ini "twitter udah ga kaya dulu lagi"

Part ini yang menjadi alasan mengapa saya menjadi ragu dan bimbang, apakah seharusnya saya berhenti membukanya sedangkan energi energi selama ini didapatkan dari joke joke receh yang ada disana, atau tetap menjadi bagian darinya namun hanya sebatas memandangi saja.

Pertanyaan macam apa ini?

Intinya, saya tak suka, saya merasakan bahwa ada orang orang dimasa lalunya datang kembali menghiasi timeline ini. Inginku mute saja, tapi tak tega, padahal tak terasa. Tapi yasudahlah. Hari ini, saya cukup mencurahkan di blog saya saja.

I miss you, twitter.
Sekian.