Seni Bersikap Bodo Amat Versi Saya

watch_later Sunday, 30 June 2019


Ada sebuah forum, lalu didalamnya berbagai karakter saling berbagi pandangan mengenai satu tujuan. Lalu ditengah presentasi nyletuk "heh, saya ga setuju". Sambil mengacung jari telunjuk menunjuk muka orang yang sedang presentasi lalu berkata "saya ga setuju". Pada konotasi dalam ber-etika, orang ini ga punya tata krama, regulasi dalam bercengkrama sebaiknya memang pada bagaimana kita mendengarkan dan berbicara tanpa memotong lawan bicaranya. Dua hal yang kadang terbalik dengan besarnya api yang meledak ledak di kepala.

Dalam case sesederhana ini, ada beberapa opini bagaimana mengatasinya, salah satunya bagaimana "saya ga setuju" ini menjadi bagian dari forum. Tatanan tempat yang bisa dikatakan kurang tepat, bisa saja melemahkan sebuah argumen. Maksudnya jika kita dengarkan, orang orang yang mengemukakan pendapat disaat orang berbicara, biasanya dia memiliki argumen kuat untuk memintanya berhenti sebelum melanjutkan pandangan mereka. Biasanya konteks yang dibawa berlawanan dan tajam, pada satu bagian lain argumena atau pendapat ini lebih banyak mengarahkan kepada pembicara ke jalan yang benar. Menguliti argumen yang sedang dibangun.

Pada satu ruangan forum dalam hal seperti ini akan nampak biasa saja, tergantung waktu dan kondisinya seperti apa.

Namun dalam sebuah pemikiran, dua opini yang saling bertentangan itu biasa. Hanya dalam implementasinya yang berbeda, justru itu tak ada pengaruhnya. Yang satu minta ke kanan, yang satu minta ke kiri, tapi tujuannya sama. Argumennya ada pada seberapa "efisien" jalan yang kamu pilih.

Berbeda dengan argumen ini, bagaimana setuju dengan tidak setuju jika tujuannya sudah berbeda. Konteks ini hanya "agree and disagree". Lo setuju ya udah, ga juga gapapa. Pilihannya adalah kalo setuju berarti kita satu jalan, kalo lo beda jalan, ya sudah, kita memang ga satu arah dan beda pemikiran. Pada konsep ini seharusnya sudah dicukupi dengan berhenti berargumen dan mengatakan "ok, I get it".

Tapi pada prakteknya banyak yang memperjuangkan untuk bisa mengemukakan pandangan pemikirannya untuk bisa mengarahkan ke jalan yang sama, namun konsekuensinya adalah bagaimana orang tersebut tersadar apakah jalan itu adaah jalan yang tepat baginya. Pada kata ini, sangat sulit dijabarkan bagaimana bisa orang bersih keras mengatakan saya benar, dan anda salah jika pada suatu tujuan saja sudah berbeda. Seharusnya tidak ada kata benar, tidak ada kata salah, hanya saja kita yang berbeda.

Pada tahun ini umumnya orang tertarik pada satu argumen lalu mempergunjingkan apa yang mereka pikirkan, dalam satu sisi konteks cara berargumen kadang lebih sering membunuh karakter orang ketimbang mematahkan argumen. Biasanya yang sering kita temukan adalah bentuk nyinyir-an pada suatu argumen, karna ini akan menjadi menarik jika punch-line joke nya kena sampai pemilik pandangan atau lebih kepada orang yang satu pemikiran. Mengumpulkan massa untuk menjatuhkan karakter, bukan mengubah sudut pandang atau mungkin mematahkan argumen yang sedang diangkat. "Ah emang si dia orangnya gini, jadi dia begitu" membuat orang berasumsi terhadap pendapatnya dipatahkan bukan berdasarkan buah pemikiran, tetapi karna karakter orang tersebut.

Sebuah pemikiran kecil saya ketika berhadapan dengan orang yang bernada acuh dengan lawan bicaranya namun ingin ditimpali dengan sebuah argumen yang lemah.