Selamat yang ke 26




Masih dimeja kantor, dengan sejenis rasa iri hati dengan campur aduk. Kegaduhan ini ternyata telah melupakan banyak hal. Salah satunya saya telah merelakan waktu untuk berdiam diri dengan rasa yang mengulik daya imajinasi.

Pada satu titik. Menerangkan pada bagian bagian yang orang tak bisa mengerti. Tapi pada beberapa konteks yang lebih bisa diterima. Sejauh ini, tidak ada kata itu.

Saya bersyukur untuk sampai saat ini, aku masih bisa merasakan satu kata kecil yang mungkin tak terbayangkan. Sebesar itukah rasa ini sampai orang mengatakan dasar tak tahu diri?

Pada bayang-bayang imajinasi yang semakin semu, dengan rangkaian rangkaian penggalan cerita dari friksi friski media sosial yang telah terunggah. Pada akhirnya, saya hanya bergumam pada satu prinsip dimana semuanya adalah semu.

Kuketuk kembali rasa yang telah lupa, penghuni membangunkanku pada saat hari kelahirannya.

Kuucapkan sederhana, sebagaimana perasaan ini, sederhana, tak membutuhkan balasan. egois, mendamba. Lebih baik kunikmati sendiri.

Bagaimana orang bisa bertahan sampai detik ini? mungkin jawabannya satu, kesederhanaan.

Pada bagian penggalan, saya berujar, saya cukup keren juga, memuji diri sendiri apa salahnya, hanya pada beberapa waktu adalah bagian yang tidak bisa terurai. Lalu memulai dengan kekalutan yang berlarut larut sampai tiada akhir.

Kusampaikan padamu kali ini, pada bagian ini, aku cukup hanya mengagumimu. tak perlu berbalas. Cukup hanya kunikmati sendiri.


14 Mei 2019
Pada malam yang telah membuatku sedikit senyum dengan rasa uluh hati.

Comments

Popular Posts