Prabowo Bisa Gagal Jika Timses Tak Berubah

watch_later Thursday, 14 February 2019
Pak Prabowo tak bisa membawa momentum 212 menjadi gerakan nasional untuk memenangkan dirinya. Saya rasa membonceng popularitas dari gerakan 212 adalah kalimat yang tepat, selain itu, keuntungan terbesar saat pilgub menjadikan elektabilitas meningkat tajam. Saya melihat, sebelum kejadian itu bergulir, prabowo hanyalah seorang jendral yang memiliki masa lalu yang hitam di mata masyarakat. Bahkan berkompetisi dengan jokowi saja tidak ada apa apanya. Sejauh mata hati memandang pak prabowo, selalu terngiang bekas luka di bawah orde baru. Saya rasa, 212 adalah titik balik pak prabowo terangkat dari jurang untuk mendapatkan simpatisan islam tanpa ia sadari.

Prabowo Subianto (Rengga Sancaya/detikcom)


Gerakan 212 tak lantas menjadi gerakan politik karna sejatinya adalah gerakan dari hati umat islam seutuhnya, sisanya hanya boncengan boncengan politik yang mengejar popularitas simpatisan umat islam.

Hoax, Negative Campign, dan Tidak Memberikan Harapan.
Tiga hal yang menurut saya tepat ditujukan pada pihak tim pemenang kampanye pak prabowo. Jujur, dari Ratna Sarumpaet adalah blunder yang mungkin saja jadi bumerang buat politik pak prabowo. Hal ini menunjukan sisi buruk kubu oposisi bahwa mereka hanya mencari cari kesalahan lawan saja. Menurut saya, kritikan kritikan itu ada benarnya, banyak lebaynya. Banyak kampanye ditujukan pada jokowi yang miring terhadap banyak hal, memberikan label bahwa jokowi itu anti islam. Ada benarnya, tapi banyak lebaynya. Saya rasa ini adalah bentuk strategi kubu prabowo untuk terus menyerang kelemahan jokowi.

Pak jokowi yang diklaim sama pihak timses prabowo hanya fokus kerja sebaiknya memperhatikan beberapa hal detail yang sangat berpengaruh besar, yaitu suara umat islam. Selama ini yang tak bisa terjawab oleh pak jokowi dengan rasa memuaskan hati. Dan inilah titik lemah jokowi yang terus digerus oleh timses pak prabowo. Memberikan mandat kepada pak Amin Maruf untuk merubah arus suara juga tak memberikan solusi. Malah berpotensi memecah belah. Awalnya saya ikut bergairah, dan tentu saja besar harapan adanya pemain yang bisa menjunjung tinggi derajat umat islam. Tentu , tapi dengan begini, semakin tak ada arah yang jelas.

Ratna Sarumpaet adalah bukti nyata tentang pengaruhnya negative campign yang terus dicanangkan, tanpa konfirmasi langsung main tembak. Bahkan sampai ke level konferensi pers adalah bentuk ketidakjujuran pihak oposisi terhadap bermain politik. Saya kecewa. Untung saja dunia digital makin canggih, penelusuran berbuah kedok yang hanya bikin malu satu partai. Hal ini menyebabkan partai memiliki citra buruk, citra penyebar hoax makin gencar. Lemah.

Dari tahun 2018 awal mulainya kampanye sampai sekarang, belum ada suguhan dari pak prabowo dan sandiaga uno yang menurut saya benar benar menggebrak untuk perubahan yang lebih baik. Lebih banyak memberikan rasa kekhawatiran dan rasa takut akan masa depan yang tak baik bersama pemerintah saat ini. Tetapi, rasa takutnya tak bisa di iringi dengan solusi dan harapan yang diberikan oleh pihak prabowo dan sandi. Satu hal yang saya tunggu sampai detik ini.

Mengatakan tolak cina cina cina, cina anti islam, cina komunis, tapi pak prabowo berpidato bahwa cina itu negara yang penting. Tidak seimbang dengan black campign yang digiring selama ini oleh timses. Jadi kita harus mencintai cina apa harus menolaknya pak prabowo?

Sandiwara Uno, saya sempet terbawa suasana perang media dengan berbagai fitnah. Sampai saya harus crosscheck fakta lebih dalam mengenai hal tsb, dari media penggiring opini, penulisnya, dan siapa yang meliput. Karna sekarang banyak yang beredar adalah sebuah retorika politik, sandiwara, drama, bahkan sampai penyebar fitnah atau hoax. Kedua timses seolah tak mengedepankan sebuah sportifitas, semua bagaimana caranya untuk saling sikut untuk menjadi kampiun di april mendatang. Termasuk pak Sandi, beliau memang tak tahu menahu siapa yang dia kunjungi, siapa yang dia ajak bicara saat ke kota2, lalu mendengarkan isi hati masyarakat sekitar, tapi apa daya, masyarakat yang ditanya adalah caleg atau timses lokal yang fanatik kepadanya, hal ini menjadi tak begitu valid sebagai wakil suara suara rakyat, terlebih semua hanya bagian dari drama untuk menciptakan opini di media.

Saya jadi inget, ada fase Kiamat yang semakin dekat. Dengan beberapa hal diantaranya adalah semakin banyaknya fitnah sebagai salah satu tanda tanda datangnya kiamat. Well, apakah ini adalah salah satu bagian dari diantaranya? silahken nilai sendiri.

Prabowo sebenarnya lebih legowo, dia tak langsung ambil sikap masa bodoh dan justru peduli tentang perdamaian di negeri ini. Coba bayangkan jika pak prabowo menggandeng ulama lainnya, bisa bisa perang saudara sudah. Pilihan yang tepat untuk tak menggandeng ulama sebagai manuver politik, artinya yang awal saya prediksi bahwa Pak Prabowo akan mencari simpatisan 212, tapi justru seolah sangat berhati hati dalam mengambil sikap dengan gerakan tersebut.

Pak Prabowo dengan sendirinya mendapatkan simpatisan islam tanpa beliau harus memboncengi gerakan tersebut. dengan kata lain, bahwa sebagian besar umat islam sudah kecewa dan sakit hati dengan apa yang sudah partai pengusung pak jokowi lakukan selama ini terhadap umat islam. Semua seolah berbondong - bondong untuk kelak memilih prabowo demi menolak kembalinya dua periode bergulir. Angin segar ini seharusnya dibaca timses pak prabowo, tanpa menggiring dan dengan kampanye yang buruk sudah cukup untuk memenangkan hati masyarakat terutama umat islam seutuhnya. Jangan hanya karena bentuk kritikan dari lawan lalu kita menyerangnya kembali dengan cara yang sama, tapi fokuslah bagaimana kita memberikan harapan dengan apa yang kita miliki, serta menjadi bagian dari politik yang sportif dan berwatak elegan.