Pak Jokowi Kamu Beneran Islam Gak Sih?

watch_later Thursday, 14 February 2019
Kadang yang namanya politik tidak bisa diprediksi dan benar benar penuh intrik. Manuver manuver yang sudah dijalankan, strategi strategi yang sudah disiapkan, "kadang" bisa menjadi sia-sia dan tidak bisa lagi dipakai menjadi andalan. Strategi politik yang tentu menjadi benang merah untuk bisa maju menjadi kampiun dalam pemilu tak serta merta bisa diterka dalam ukuran tahun tahun sebelumnya. Tak mudah mengikuti arus pandangan masyarakat apalagi dengan mulai banyaknya informasi informasi yang sangat mudah diakses lewat teknologi saat ini. Berprinsip pada ideologi saja sejauh ini tak akan menjadi primadona.

Joko Widodo saat menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 November 2017.  TEMPO/Subekti

5 tahun lalu, ketika berbicara tentang politik tapi bertamengkan agama (islam terutama), saya akan berujar "ah munafik, giliran jadi pejabat juga sama saja", atau "ah palingan ya korup juga", "ga usah bawa bawa agama kalo masih korup juga, najis". Kegelisahan saya melihat retorika berpolitik dengan bawa bawa agama semakin membuat saya muak sama politisi penuh topeng, mengundang masa dengan cara menyentuh identitas masyarakat. Semacam ada rasa bosan melihat yang digunakan  politik elit masih sama saja, membawa masa dari agamanya untuk hanya sekedar gimmick akan memakmurkan islam kedepannya. Mungkin sebagai pemilih pemula waktu itu, karna untuk pertama kalinya memilih, saya mengobservasi berdasarkan apa yang saya nilai dari media. Saya pikir kita sudah lelah memilih para politik elit dengan gaya kopiah peci, dengan baju koko khasnya tapi masih saja kelakuan preman mark up proyek sana sini. Saya hanya butuh perubahan dengan wajah rakyat, perwakilan hati masyarakat yang mungkin bisa merubah setidaknya ada perubahan besar dalam memajukan bangsa ini.

Politik dalam beragama masih mengandung pro dan kontra, saya pribadi juga setuju, jika politik dibawa hanya untuk mencari massa. digaris bawahi, hanya untuk mencari massa, maka sejatinya mereka tak benar benar mewakili suara tersebut.

Pandji Pragiwaksono memberikan pesan untuk tidak melihat kebelakang bahwa pilgub 2018 di jakarta tidak seharusnya disamakan dengan pilpres 2019, bagi saya pribadi, saya tidak setuju. Saya rasa justru momentumnya ada disini, sejauh mana kedua paslon bisa memberikan reaksi terhadap tantangan yang muncul setelah pilgub ini. Jawaban terhadap isu tersebut sangat terasa ketika mereka mulai meracik strategi politik mereka untuk pilpres 2019, dengan Pak jokowi yang menggandeng ulama besar Amin Ma'ruf, atau Pak Prabowo yang katanya membonceng polularitas gerakan 212.

Keduanya jauh sebelum Blunder terbesar dalam sejarah ahok berpolitik, belum ada satupun gaung yang mengatasnamakan agama islam sebagai landasan mereka untuk berkampanye. Dari pencritaan, black campign, sampai negative campign menjadi bumbu politik mereka untuk mencari suara, dan semuanya membahas tentang apa yang akan saya kerjakan, dan bagaimana cara kerjanya. Semua tentang kerja, kerja, kerja. Yang saya sukai dewasa ini, semuanya seolah tak mementingkan bagaimana meraih simpati dengan bekerja, tp bagaimana merangkul umat islam di indonesia dengan caranya masing masing. Hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dibenak saya.

Pada beberapa bulan yang lalu sebelum pendaftaran calon presiden, banyak tekanan diberikan pada pihak pemerintah saat itu jika mereka sangat anti terhadap perkembangan umat islam. Jokowi masih bimbang dengan pencalonan, mahfud md paling depan bagaimana menjawab tantangan tsb. Seorang tokoh besar di dunia pendidikan serta tokoh partai politik yang kental dengan dna ke-nu-an nya. Semua merekomendasikan seorang mahfud md sebagai calon yg tepat untuk menjadi pendamping jokowi. Namun apa daya, elektabilitas mahfud md tak cukup kuat untuk memberikan simpatisan para swing voters. Mahfud md tak cukup kuat dalam meraih suara cukup banyak salah satunya adalah umat islam yang sedang patah hati. Dari segi politik, iya, menggandeng yang mungkin saja beberapa partai islam seperti pkb. Tapi, terlalu sulit untuk berkompetisi dengan pks ataupun pan yang lebih besar dalam range suara simpatisannya.

Akhirnya, keputusan yang mengejutkan, manuver untuk menggandeng ulama adalah langkah strategi mereka untuk meraih simpatisan islam di indonesia. Yang awalnya, saya pribadi justru pak prabowo yang akan menggandeng ulama, ini malah pak jokowi yang lebih duluan ambil start untuk bisa menjawab tantangan tsb. Keputusan yang cukup kontroversial, kedua belah pihak ikutan shock. Terutama simpatisan jokowi pasti bertanya tanya, selama ini yang diusung kerjanya, kritik sosialnya terhadap kaum muslim munafik, sekarang seolah seperti ketakutan kehilangan momentum, ingin mencari massa di kampanye. Panik, saya yakin keduanya panik. inilah yang saya sebut tadi, politisasi agama yang hanya mencari massa. Sangat kentara kedoknya, ingin kembali mengangkat derajat umat islam agar dipilih kembali. Dan juga, kubu jokowi, dulunya memberikan kritik keras pada umat islam bahwa banyak umat islam berpolitik dengan membawa agama bahwa hal tersebut adalah hal yang berbahaya. Lantas, manuver ini, berbahaya kah? Menelan ludahnya sendiri.

Belum sampai disitu, sebelum kampanye pilpres ini bergulir, pada masa pilgub kubu jokowi banyak memelintirkan suara suara untuk menjatuhkan umat islam. Munculnya islam nusantara adalah salah satu bentuk yang salah, serta gagal total. Artinya, ahli strategi politik mereka ga paham betul islam didalamnya. saya tahu proses seperti apa yang ingin mereka bangun kepada masyarakat. Menginginkan islam yang lebih manusiawi dan "toleran". Tapi apa yang diajarkan dalam islam nusantara udah mulai melenceng dari ajaran pedoman agama islam, al quran. Silahkan check. Ga ada islam nusantara, ga ada islam nu, ga ada islam muhammadiyah, adanya islam satu golongan yg ada pedoman dari Quran dan hadist. Nu dan muhammadiyah adalah salah satu organisasi islam dengan misinya masing2. Jadi bukan suatu aliran yang harus jadi ajaran baku. Lagi, belum bisa menjawab tantangan umat islam pada saat pergerakan 212 tahun lalu.

Apasih tantangannya setelah 212? Memberikan kepercayaan terhadap masyarakat bahwa pemerintah yang akan mereka pimpin kelak akan memberikan wadah dan tempat serta kebijakan yang saling beriringan untuk mencapai tujuan bersama. Semoga saja paham ya. Apakah ini berlaku juga dengan kubu pak jokowi? Tentu saja.

Selain sentimen petahana terhadap gerakan 212, muncul Abu janda, bagi saya, jika ada satu manusia yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemuka agama tp kelakuan seperti beliau, saya pastikan bahwa kubu tersebut tak tahu betul tentang agama islam. Singkat cerita, hanya retorika politik saja. Tak lain dari bentuk kritik terhadap ulama yang menjunjung agama islam yang "katanya" intoleran. Makanya abu janda memberikan suguhan dengan gaya berpakaian serta tutur kata yang menyerupai tokoh islam, dengan gayanya memberikan kritikan untuk melawan serangan serangan dari berbagai pihak. Dari strategi ini tentu mendapatkan dua hal, yang pertama ulama akan mendapatkan perlawanan, kedua umat islam direndahkan secara bertahap. Dia menggunakan nama samaran dari perwadi menjadi ustadz didepannya ditambah dengan abu janda. Ane rasa, ini udah keterlaluan. Dari sini saya mempertanyakan keislamannya, seringkali tak masuk akal dalam berdebat, asal ceplos, sangat terlihat fungsinya sebagai benteng pion politik garis depan.

Abu janda diciptakan pemerintah untuk melawan gerakan para ulama (baca dikit)

Kali ini, kegagalan mempertahankan argumen melawan ulama di pilgub menjadi abu janda tak punya taring. Apalagi masuknya Ust. Amin Maruf didalam lingkaran petahana membuat abu janda semakin terhimpit. Roda arus strategi politik berubah drastis. Lagi dan lagi, menelan ludahnya sendiri. Nah, lah kemarin kritik keras para ulama, kok sekarang malah jalan bareng sama ulama? Ga jelas, takut kehilangan suara.

Lalu hal lain, yaitu PSI, saya menilai banyak pernyataan selain kontroversial, sudah sangat jelas bahwa mereka menentang ajaran islam. Menolak Poligami, lalu, menolak pemerintah menggunakan Perda Syariah. Dengan begini, sudah jelas, jika anda memilih PSI, anda tidak mendukung agama islam seutuhnya. Bukan soal berdosa atau tidak suci, perlu saya garis bawahi, anda mendukung partai yang menganggap islam adalah ajaran yang salah di negeri ini.

Saya rasa dengan seperti ini sudah sangat tidak berimbang dengan visi misi yang diusung pak jokowi dan kengototannya untuk membangun kembali image nya dihadapan umat islam, tapi peran pak amin ma'ruf apa? saya masih mempertanyakan hal itu sampai sekarang.

Tren berkampanye kali ini adalah bagaimana peran umat islam nantinya ditengah pemerintah yang baru. Sejujurnya, sejak pilgub itu, perubahan terbesar adalah umat islam menjadi semakin solid dan bersatu. Banyak politik elit merasa takut akan kehilangan suara umat islam. Sedikit juga yang merasa untuk mengkritik suara suara umat islam terutama dalam pergerakan 212. Saat ini, pilihan ada pada bagaimana anda memandang islam, bagaimana anda menginginkan peran islam di pemerintah.

Saya merasa kasihan pada Pak Amin Maruf, PSI menolak beberapa ajaran islam, timses mereka mengkritik gerakan 212, lalu bersama sama menciptakan agama "baru" Islam Nusantara. Mendapatkan dukungan dari seorang ustadz gadungan, Abu Janda. Orang mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa gerakan 212 itu bukan milik gerindra ataupun partai politik manapun. Partai politiklah yang selama ini menumpang kepopularitasan sebuah gerakan umat islam. Habib Riziq adalah bagian dari tumbal untuk menjatuhkan rezim yang menghina umat islam. Bagi yang percaya bahwa Habib Riziq melakukan chatting mesum dengan wanita lain bukan istrinya, saya rasa anda mudah sekali dibohongi oleh media yang terorganisir, atau rasa gengsi anda yang tinggi untuk tak mempercayai logika proses penangkapan habib rizieq, atau anda mentolerir sebuah kecacatan hukum yang berlaku saat ini. Karna bagi saya, apa yang sudah dilakukan pada rezim ini adalah efek balas dendam terhadap apa yang dilakukan riziq pada gerakan 212 tersebut.

Buat saya, islam menjadi tak jelas dimata kubu pemerintah saat ini. Inginnya pro sama islam, tapi perlakuannya tidak mencerminkan menjunjung hakekat islam yang seharusnya. Silahkan komentar dibawah jika saya berkata salah sampai disini. Mari kita bertukar opini tentang islam dimata pemerintah saat ini.

Tapi, satu hal hambatan terbesar terganjal dihati saya yang mungkin terwakilkan banyak orang. Pesona Pak Prabowo sejatinya tak benar benar membuat saya yakin beliau bisa memimpin dengan lancar. Harapan baru belum juga terbaca oleh saya seperti apa yang diharapkan pemerintah dibawah prabowo. Seperti masih meraba raba bagaimana memimpin pemerintah dimasa mendatang. Mungkin saja ada benarnya jika beliau sampai detik ini juga belum pernah merasakan betul menduduki kursi nomor satu itu.

Tapi terlepas dari itu, hati kecil ingin berkata bahwa saya ingin pak prabowo memimpin. Saya ingin mencoba, setidaknya ada perubahan baru. Dengan begini, kita bisa menilai seperti apa pak prabowo sesungguhnya. Deklarasi perlawanan timses petahana terhadap gerakan 212 adalah kesalahan terbesar timses pak jokowi. Bukan bertambahnya suara islam, tapi justru pemicu adanya perang saudara. Dengan begini, pak jokowi sejatinya tak sungguh benar dalam merubah citra buruknya terhadap umat islam. Dan untuk pertama kalinya, pilihan ditentukan pada bagaimana peran mereka memandang islam.