Atta Halilintar Dengan Sisi Yang Lain

watch_later Thursday, 14 February 2019
Ane rasa menjadi fans untuk seorang atta halilintar di usia seperti sekarang adalah perkara yang terlalu kekanak kanakan, terdengar ga balance sama umur terutama. Saya bukan fans Atta Halilintar. Atta memang sejatinya lebih layak menjadi primadona untuk para remaja diusianya, sebenarnya si atta sama usia saya ga beda jauh, tapi saya yang sekarang sama saya yang dulu 3 tahun juga merasakan perbedaan yang sangat kentara dalam melihat berbagai sisi kehidupan. Mungkin Atta akan tumbuh dewasa dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan.

Atta Menembus 10 Juta Subscriber pertama di Asia Tenggara (Kapanlagi)


Atta Halilintar dengan segala struggle-nya dalam membangun kanal youtube pribadinya buat saya pribadi suatu acungan jempol. Konsisten, persistent, dan bener bener totalitas. Satu hal yang saya sukai dari satu orang ini adalah konsistensinya dalam melakukan hal berkarya. Atta menyuguhkan hal yang pasar butuhkan sekarang ini, bukan suatu hal yang spontan dengan menjetikan jari langsung 10 juta subscriber. Bentuk prosesnya adalah sebuah kerja keras dan ketekunan. Meskipun sejatinya tak selalu diterima seluruh masyarakat, dengan mungkin beberapa konten yang dikatakan kurang mendidik, atau kurang bermakna, apapun itu, Atta menghadirkan satu konten yang bisa mengisi  hiburan Tanah Air.

Dari grebek rumah artis, beli mobil sport, diss track, vlog jalan ke luar kota, luar negeri, hampir sebagian besar ga berfaedah, cuman satu yang kelihatan berkualitas, mengunjungi orang yang terkena musibah bencana, seperti di palu dan atau memberikan beberapa sumbangan dengan angka yang tak disebutkan, atau lagi, nazar membangun masjid setelah 10 juta subscriber. Sejauh mata memandang, Atta cuman konten kreator yang jeli melihat peluang, melihat pasar yang belum terjamah di masyarakat. Yang menarik, 10juta subscriber menjadi bukti bahwa atta bener bener konten kreator yang sukses.

Tapi, yang jadi masalah dalam sosial ini apa? Dewasa ini, MLI (Majelis Lucu Indonesia) dengan pengaruh sosial mereka mengajak pengikutnya untuk mengkritik dengan dark comedy nya kepada seorang Atta mengenai seberapa noraknya konten yang disajikan mereka. Saya pribadi agak risih. MLI melakukan drama , parodi, sampai ke titik bullying. Dalih bahwa dark comedy yang mereka bawakan adalah roasting, tapi tak sejalan dengan apa yang coki jelaskan pada beberapa tahun silam tentang roasting. Di episode perdana MLI dalam show mereka di salah satu cafe, Coki menjelaskan bahwa roasting harus mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak. Saya rasa, dia sudah lupa. Bukti digital ga bakal kemana. Jangan ngeles terus bisanya. #eh Dengan begini, coki melanggar kode etik roasting yang seharusnya. dalam artian, kalo ga ada kesepakatan berarti bukan masuk dalam kategori roasting dong?

Pada titik ini mereka mencari kesalahan kesalahan ditubuh seorang Atta, menjadi objek mereka untuk dibuatkan canda untuk massa-nya. Terkesan sarkas, lalu mengajak bersama sama membully orang yang sedang berkarya. Kritik seharusnya dibuat dengan dasar yang jelas, tapi sebagai bahan joke lalu didasari karna adsense sejatinya tak membuat posisi mereka tinggi juga. Justru menghambakan adsense sama saja menghinakan dirinya sendiri.

MLI belum saja dapat lawan yang meroasting mereka. Artinya budak adsense yang masih nebeng popularitas orang. Jika memang dewasa, seharusnya mereka datang baik baik ke tim management Atta untuk membuat konten roasting, dengan begitu bentuk kritik yang mereka lakukan benar benar tulus untuk merubah konten Atta lebih baik lagi.

Selebihnya, Atta hanyalah anak muda yang sedang berkarya. Tentu bentuk pencarian jati dirinya sedang terproses. Jangan memaksakan orang seusia Atta untuk segera dewasa, karna akal pikiran manusia dibentuk dengan berbagai macam karakteristik.

Diusia kini yang mulai menginjak 25 tahun ke atas, saya yakin dari segi kehidupan, prioritas mulai berubah. Ritme dalam menjalani kehidupan sehari hari kemungkinan juga akan berubah. Dengan begitu, kesibukan makin banyak, prioritas makin dipersempit, dan lebih banyak menyaring atau memfilter sumber hiburan untuk diri pribadi. Bahkan, mulai berubah dari segi format tontonan yang ingin dijadikan list tontonan. Pendewasaan itu yang membuat kita memilih seberapa "worth it" kah tontonan yang kita tonton.

Alasan saya mensupport Atta adalah jiwanya yang baik dalam memberikan contoh positif untuk penontonnya. Dia selalu menunjukan sisi untuk tidak lupa akan Solat (meskipun cuman pencitraan bagi saya itu adalah hal yang positif memberikan contoh yang baik untuk penontonnya). Mengajak berbuat kebaikan, dibeberapa sesi dirinya memberikan sisi baik untuk saling berbagi dengan orang yang membutuhkan dijalan dan terus mencoba untuk selalu bisa membantu orang lain. Mengajarkan untuk berbakti pada orang tua. Memberikan motivasi untuk bisa mencapai titik sampai dirinya sekarang ini. Sebenarnya, tidak buruk buruk amat untuk Atta memberikan suatu konten pada penontonnya. Balik lagi, dibalik konten yang "sampah seperti tv", Atta Halilintar telah merubah trend Indonesia untuk mulai menjadi alternatif hiburan.

Karya Atta bukan cuman soal pamer harta kok, berbagi motivasi, sampai ke titik dimana keseriusan atta dalammembangun videonya dari editing, memasukan sisipan meme, lalu backsound yang dia ciptakan sendiri. well. orang dibelakang layar wajib dikasih pujian.

Justin Biebeer dengan segala hatersnya yang membombardir kebenciannya tak lantas membuatnya makin turun pamor. Justru sampai sekarang mampu mempertahankan eksistensinya, bahkan sekarang haters mulai memudar dan lelah mengetik tombol komentar dikolom ig nya. Sejatinya, Justin yang masih remaja adalah proses dirinya sampai ke titik sekarang ini.Sama dengan halnya Atta, dia adalah primadona untuk seusianya, biarkan menjadi apa yang mereka inginkan. Jika ingin meluruskan sebagai orang yang lebih tua dan dewasa, datanglah ke management untuk memberikan masukan "Haters Gonna Hate, No matter How Good You are" GBU.