Sampah

...

Jika saja dalam peradaban dunia ini mengandung arti mengerti dan memahami satu sama lain, sejatinya terlalu damai dengan keadaan. Tentu saja, sajak sedih dengan mendayu tak menjadi primadona. Terlalu naif jika berbicara mengatakan akulah sang pendamba menikmati dengan rasa mencintai sendiri. Terlalu nyaman dengan rasa kagum yang dalam, sehingga sulit untuk bahkan membaginya dengannya. Terdengar aneh, namun begitulah rasanya ketika tergesek dengan egoisme perasaan yang dalam. bermain sebagai korban perasaan lalu menyalahkan semuanya, padahal tak lain dari rasa pantas dan memantaskan diri.

Malam ini, kukira aku mau menulis politik. Berhenti. Tak ada dalam rasa mood yang berkolega. Sedang dalam rasa goyah dan kecenderungan ingin menggalau. Teriak teriak dalam suasana kering asmara, lalu mencari pelarian pelarian dari permainan analog. Tumpah ruah segala emosi tak mau ingin menjadi apa. Terdengar produktif, tapi lebih tepatnya kurang garam. Terlalu manis jika berujung indah, teralasan dari berbagai alasan yang ada.

Kudengar kau sudah bahagia. Sudahlah, pakai logika saja sudah tak serta merta merestui. Bahkan semesta alam tak rela jika menjadi kenyataan. Kudengar, lebih memalukan jika semua orang tahu dan menatap aneh, mengapa kamu tak juga sadar oh diriku sendiri. Ngaca! kudengar diriku tak tahu malu.

Seruput lagi teh pahit , tambah gula sedikit. Lalu mengetik lagi. Sampah. Tak ada tujuan. terdengar seni. Begitu adanya.

Comments

Popular Posts