Penat

Saya pikir penat, ternyata benar. Tuntutan melulu, padahal sekeliling lupa kalo kita pernah diadu. Ego yang menerangkan masing masing keinginan. Bila kita masih bisa mengerti, satu satu masalah kita jalani. Berpura pura tegar, adalah manusia normal yang ingin dimengerti. Meronta ronta ingin digali, tapi gengsi jika berbagi.

Diam diam saya mulai penat, ternyata benar. Kurang istirahat mungkin. Tapi kali ini lebih tepat kurang bersyukur. Nikmat syukur yang mulai dilupakan. Jika membandingkan keatas tidak akan ada habisnya, kodrat syukur sejatinya menunduk kebawah. Maka rasa syukur yang tulus turun dari hati yang paling dalam.

Comments

Popular Posts