Tasyahud Akhir Ketika Terlambat Berjamaah

watch_later Sunday, 14 September 2014

Photo by hijrahminda.com
Sederhana namun cukup mengganggu konsentrasi ketika kita sholat. Saya mempunyai dua pandangan ketika melihat beberapa jamaah melakukan sholat. Yang menjadi pertanyaan dalam konsteks kapan menggunakan tasyahud awal dan tasyahud akhir. Kadang kita mengalami terlambat saat jamaah sholat dan yang pasti akan ada perbedaan jumlah rekaat kita dengan imam, seperti kita terlambat satu rekaat otomatis kita akan sholat dengan tasyahud awal di rekaat kedua, nah yang menjadi pertanyaan dalam diri saya adalah ketika tasyahud akhir, apakah menggunakan tasyahud awal dengan alas an bahwa saya belum menyelesaikan rekaatnya atau tasyahud akhir karena kita mengikuti imam. Saya mengutip dari rumaysho.com dan beberapa artikel lain.

Bagaimanakah duduk pada tasyahud awwal dan tasyahud akhir?

Imam Nawawi menjelaskan bahwa duduk pada tasyahud awwal yaitu dengan duduk iftirosy. Sedangkan duduk pada tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk.  Ulama Syafi’iyah mengemukakan alasan kenapa duduknya seperti itu berdasarkan hadits dari Abu Humaid ketika menjelaskan tata cara shalat kepada sepuluh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
Jika duduk di raka’at kedua, beliau duduk di kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (baca: duduk iftirosy). Jika beliau duduk di raka’at terakhir, beliau mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya, duduk di lantai saat itu (baca: duduk tawarruk).” (HR. Bukhari no. 828).

Dalam hadits ini untuk duduk raka’at terakhir, tidak dijelaskan apakah untuk shalat yang hanya dua, tiga atau empat raka’at. Pokoknya, di raka’at terakhir, duduknya adalah tawarruk.

hadits Abu Humaid dijelaskan,
فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ .
Jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirosy). Jika duduk pada raka’at terakhir, beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain (kaki kanan), dan duduk di atas lantai - bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk).”

Masbuk yang mendapati imam sedang duduk tawarruq di akhir sholatnya, apakah dia ikut duduk tawarruq atau dia tetap duduk iftirosy?

Pendapat pertama

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, Diantara masyaikh kami ada menguatkan duduknya adalah duduk tawarruq dengan mengambil zhohir dari hadits “Imam itu dijadikan untuk diikuti”, karena imam duduk tawarruq maka kita juga mesti duduk tawarruq mengikutinya.
ما أدركتم فصلوا وما فاتكم فاقضوا
"Apa saja gerakan imam yang kalian dapati, maka ikutilah (shalatlah). Sedangkan yang luput bagi kalian, maka sempurnakanlah." (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim,)

Pendapat kedua

Diantara mereka, ada yang menguatkan duduk iftirosy, dan mereka menganggap bahwa duduk imam pada tasyahhud akhri yang dianggap gerakan zhohir adalah duduknya saja, bukan kaifiat duduknya. Karena tidak hubungannya dengan kaifiat duduk, maka harusnya dia duduk iftirosy sebagaimana yang telah dituntunkan. Dan pendapat ini adalah pandangan yang sangat tajam karena mungkin sang imam berpendapat bahwa duduk pada tasyahhud terakhir adalah dengan cara iftirosy (sebagaimana pendapat sebagian ulama).


Tidak ada hadist yang menjelaskan bagaimana dalam menjalankan duduk tashyahud akhir ini, apakah mengikuti imam atau tasyahud akhir digunakan ketika di akhir rekaat saja.  Dalam Syarah Al Mumthi’ 2/312-313, Syaikh Al Utsaimin menyatakan bahwa tidak ada kewajiban mengikuti dalam gerakan sholat yang tidak menyebabkan makmum mendahului atau terlambat dari imam.