Menepuk Pundak untuk Berjamaah

watch_later Tuesday, 23 September 2014
 
Photo by wajibbaca.com

Saya masih ingat kala itu saya belum mengenal ajran ini. Padahal saya sudah berada dibangku kuliah. Kadang sedikit memalukan dan tak ingin mengingat-ingat kejadian waktu itu. Ketika itu saya sholat berjamaah berdua dengan salah satu imam masjid. Dalam konteks ini ketika berjamaah dengan dua orang akan menjalaninya bersebelahan dan bukan depan dan belakang. Nah, hal inilah yeng mendasari kejadian konyol atas dasar ketidaktahuan saya dalam menafsirkan arti menepuk pundak tersebut.

Jika Shalat sendiri dan ingin berjamaah
Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh).” (HR. Al-Bukhari no. 656)

Menepuk Pundak

Setelah saya mencari artikel tentang hal ini ternyata tidak ada dalil yang jelas tentang darimana ajaran menepuk pundak. Namun hal ini konon menjadi penanda atau isyarat untuk imamnya bahwa dibelakang ada makmum dan diberikan tepukan pada pundak supaya beliau/imam mengeraskan dan memperjelas Bacaan Al fatihah & suratan Al Quran-nya.

Waktu itu kondisi saya memang dalam kondisi berjamaah dan bersampingan. Lalu saya ditepuk pundaknya dan saya mulai kebingungan bagaimana dan harus berbuat apa. Setelah imamnya sadar bahwa dibelakang ada makmum lagi, imamnya maju kedepan satu langkah dan waktu itu saya diingatkan setelah selesai berjamaah bahwa setelah mendapat tepukan pundak merapatkan barisan shaf kebelakang. Namun sekali lagi saya sampai saat ini belum menemukan hadist yang pas untuk menjelaskan hal ini.

Sebenarnya menepuk pundak seorang yang sedang shalat untuk tanda bahwa seorang yang tadinya shalat sendiri lalu dijadikan imam hanyalah masalah nalar belaka. Maksudnya agar orang tersebut mengetahui bahwa di belakangnya ada barisan makmum yang mengkutinya. Tapi sama sekali tidak ada dalil yang mendasari seseorang untuk menepuk pundak orang yang akan dijadikan sebagai imam. Baik dari kitabullah maupun dari sunnah rasul-Nya. Makmum yang datang belakangan sebaiknya tidak menarik kebelakang seorang jamaah yang sudah berbaris rapi dan mapan dengan jamaah lain hal ini karena shaf depan lebih baik dari pada shaf belakang. Hadits yang menuntunkan untuk menarik seorang jamaah untuk menemani makmum yang sendirian dibelakang adalah lemah sekali.

Demikian yang saya tangkap setelah mengumpulkan beberapa artikel. Semoga bermanfaat! Fastabiqul Khoiroot