Dibalik Operasi Pembebasan Papua Barat

watch_later Sunday, 21 September 2014
Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.. 

Operasi militer yang terkenal dengan sebutan trikora yang diutus oleh Soekarno di Yogyakarta. Dengan mengangkat Soeharto untuk menjadi panglima komando mandala. Pada saat itu Papua barat masih dibawah kedaulatan Belanda dengan kekuasaan Ratu Belanda. Belanda menguasai wilayah Papua barat dengan armada prajurit yang lengkap, 


Belanda dengan sekutunya Amerika, Australia bekerja sama mengembalikan negara jajahan kepada penjajahnya. Dengan gagalnya belanda menguasai beberapa wilayah mereka memutuskan untuk mencoba membujuk papua dengan hadiah kemerdekaan menjadi sebuah negara


Amerika sadar akan langkah politik indonesia dimana ketika itu mereka mendapat penolakan atas permintaan bantuan untuk membebaskan papua barat. Penolakan ini menjadi pertimbangan besar bagi amerika pasalnya penolakan ini bisa menjadi hubungan uni-soviet dan indonesia semakin erat dan membuat indonesia bergabung dengan komunis. Hal inilah yang ditakuti amerika ketika itu, yang membuat amerika mengutus semua sekutunya untuk mendukung indonesia mendapatkan kekuasaan di ranah papua barat. 



Mengapa Amerika takut atas ancaman itu?

Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga. Amerika sadar bahwa jika tak mengikuti keinginan indonesia waktu itu, akan menjadi hal yang sulit bagi amerika untuk mendapatkan ijin membuka perusahaan di tanah papua dan bisa membuat lahan tambang berpindah tangan ke tangan komunis. 

Hal ini diperkuat dengan Setelah Jendral Soeharto menjadi Presiden Indonesia, Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi izin tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972), dan kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai tahun 2041. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988, tambang ini menjadi tambang emas terbesar di dunia.


http://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_Trikora