Sapalah Aku Lebih Dulu

Masih termanggut suasana hati mendengarmu kembali bersua , terdiam mencari kalimat pengantar rindu padamu dengan alasan logis kumencoba berusaha menyampaikan, namun tak kuasa sejenak meratapi ketidaksanggupan menerima kekecewaan setelahnya. Aku kan merasakan zona pertahananmu yang kokoh. Dimana aku akan kehabisan kata-kata untuk memulai kembali perbincangan seru. Terasa basi dengan tanggapan sederhana darimu, garing tak kalah dengan tandukan balasmu. Kembali diam dan hanya diamku yang sanggup mengerti. Membisik tangisan hati yang sulit terdengar, menutup mata dan mengacuh. Kemunafikan nyata. Hanya diam terdengar bisikan menyapu kau tak ingin menyapa. Pesakitan dahulu menjadi penghias alasan melengkapi ribuan kata. Menjadi pecundang yang menyerah pada kemunafikan adalah diriku yang telah jatuh dengan senang hati. Aku tak ingin melihat dulu, dengan kekotoran yang menodai deritaku detik ini. Perjalanan ini membingungkan arah yang sudah tertata demi masa depan. Melihat matamu adalah hal yang ingin menjadi nyata disela keluputanku.

Comments

Popular Posts