‘Kaka’ yang kamu bicarakan

Sedikit cemburu. Seleramu begitu tinggi. Memang layak kuberi harga mahal untukmu. Namun pemain ac milan itu apakah cukup membuatmu terhibur? aku yakin kamu berusaha mengimbangiku. Menemaniku dengan hobiku. Kau mendukungku dengan ketidaktahuanmu. Aku mengerti sebesar apa usahamu. Aku yakin sebesar rasa kecewamu. Bahkan lebih. Maaf. Maaf. Sedikit naif dan memalukan. Diamlah. Aku tak akan mengutuk siapapun. Akulah yang masih bersalah. Kau sungguh berhati emas mampu baik didepanku. Aku yakin dibalik hatimu terbesit rasa benci yang dalam. Dan membekas. Bahkan aku berburuk sangka padamu kali ini. Dengan kecemburuanku aku buta. Aku lupa. Seperti apa itu cinta yang sesungguhnya belum pernah kurasakan getarannya. Aku akui getaran itu datang saat mata kita bertatap. Tak lebih. Tak ada yang berani melebihi getaran itu. Aku yang menghancurkanmu telah menjadi lunak dan sadar betapa bodohnya masa itu. Masa yang tak ingin kita tunjukkan. Kakapun remuk redam datang dan hilang. Disisi lain kamu lupa siapa kaka yang pernah kita bicarakan. Kau tak lagi berpikir kaka. Karna kaka hanya obrolan kecil yang ingin kau habiskan denganku. Hanya itu.

Comments

Popular Posts